Bukan karena jelek, tapi karena berani. Corak macan tutul ketemu kotak-kotak, terus ada tambahan aksesori yang norak tapi somehow nyambung. Terus lo mikir, “Kok bisa sih orang sepede itu?”
Nah, baru-baru ini ada seorang wanita di MRT Singapura yang bikin heboh karena ngelakuin hal itu—dan videonya viral. Tapi ini bukan cuma soal gaya. Ini soal perlawanan visual terhadap dominasi minimalis yang udah bertahun-tahun bikin kita bosan.
Dari MRT Singapura ke FYP: Kisah Marliyana yang Viral
Siapa dia dan apa yang dia lakuin?
Marliyana, 24 tahun, seorang TikToker asal Singapura, mendadak viral setelah mengunggah video dirinya berjalan percaya diri di gerbong MRT Jalur Utara-Selatan .
Bukan cuma gayanya yang memikat—tapi outfit-nya: campuran motif kotak-kotak (plaid) dan loreng zebra, dilengkapi baret, sepatu boots, dan tas bulu palsu . Semua itu dia pakai di cuaca Singapura yang terkenal panas dan lembap.
Video yang diunggah pada 21 Juni 2026 itu udah ditonton lebih dari 27 ribu kali dan mendapat ribuan like . Marliyana bilang, idenya muncul setelah diajak label musik Universal Music Singapore bikin konten untuk lagu “Runway” dari Lady Gaga dan Doechii—soundtrack film The Devil Wears Prada 2 .
“Pas denger lagunya, gue langsung mikir, ‘Kenapa nggak bikin MRT jadi runway?’ Karena itu versi Singapura yang paling perfect,” katanya .
Kenapa ini viral?
Selain keberaniannya, yang bikin video ini viral adalah respon penonton. Mayoritas positif—mereka memuji keberanian dan kreativitasnya . Bahkan ada yang bercanda, “Kursi MRT-nya aja match sama outfit-nya, keren banget” .
Tapi nggak semua komentar baik. Ada yang nanya, “Nggak panas?” Bahkan ada yang nyinyir, “Pasti bau keringat” . Tapi Marliyana santai aja. Dia bilang, “Saya bukan orang yang gampang berkeringat, dan selalu siapin semprotan pendingin di tas” .
Yang bikin ini menarik: ini bukan sekadar tren “Tube Girl” atau “MRT Girl” yang cuma dansa-dansa di kereta . Ini tentang ekspresi diri melalui fashion yang berani, dan itu lagi naik daun.
Clashing Prints Bukan Sekadar Tren—Ini Perlawanan terhadap Minimalis
Kenapa tiba-tiba kita bosan sama minimalis?
Setelah bertahun-tahun didominasi oleh “clean girl aesthetic”, “quiet luxury”, dan kapsul wardrobe beige, orang-orang mulai bosan. Kita udah terlalu lama ngeliat warna-warna netral yang aman, gaya yang sama, dan identitas yang homogen .
Seperti yang ditulis di Vogue Arabia, minimalis itu “melelahkan.” Kita capek sama aturan bahwa berpakaian harus sempurna, rapi, dan “tenang” .
Makanya, tren clashing prints muncul sebagai bentuk pembebasan .
Clashing prints itu apa?
Clashing prints adalah seni menggabungkan motif-motif yang secara teori “nggak cocok”—misalnya kotak-kotak dengan loreng, bunga-bunga dengan garis-garis, atau polkadot dengan abstrak .
Tapi ini bukan tentang “asal tabrak.” Ini tentang intensi. Designer-desainer besar kayak Etro, Rabanne, Chanel, dan Dries Van Noten udah nunjukkin di runway: clashing prints bisa terlihat intentional dan menakjubkan kalau tahu caranya .
Di Etro, misalnya, motif barok dipadukan dengan paisley dan rajutan geometris—semua dalam palet hijau hutan dan biru navy yang sama . Di Rabanne, motif mikro dan makro saling bertabrakan untuk menciptakan ketegangan visual yang disengaja .
Intinya: clashing prints bukan tentang kekacauan, tapi tentang keberanian untuk terlihat beda. Ini tentang menolak diseragamkan oleh algoritma dan tren yang homogen .
Kenapa ini terasa relevan sekarang?
Menurut para perancang dan pakar mode, di dunia yang makin diseragamkan oleh algoritma, maximalism—dan clashing prints sebagai bagiannya—menjadi bentuk perlawanan .
Seperti yang ditulis Vogue Arabia: “People are no longer dressing to blend in. They’re dressing to be seen, to tell stories, to have a creative say in how they present themselves” .
Ini juga yang disebut oleh trend paper Peter Schmidt Group: “Joy as resistance” . Dalam dunia yang makin kompleks dan penuh tekanan, maximalism menawarkan pelarian, kegembiraan, dan autentisitas .
Fenomena Marliyana di MRT adalah contoh sempurna: dia nggak cuma naik kereta—dia bikin pernyataan.
Dari Runway MRT ke Ruang Tamu: Cara Mengaplikasikan Clashing Prints di Rumah
Tren clashing prints nggak cuma buat fashion—ini juga masuk ke interior design. Di tahun 2026, maximalism makin populer sebagai bentuk ekspresi diri di rumah .
Tapi gimana cara menerapkannya tanpa bikin rumah kelihatan berantakan? Para desainer punya beberapa aturan emas:
1. Mulai dengan Warna Dasar yang Sama
Kunci paling penting: pilih satu warna yang menyatukan semua motif .
Seperti kata desainer Cecilia Casagrande: “Jika motif floral punya 4-5 warna, motif geometris atau stripe harus punya minimal satu atau dua dari warna itu” .
Jadi, sebelum lo mulai memadukan motif, tentukan dulu palet warna utamanya.
2. Mainkan Skala Motif
Jangan gunakan dua motif dengan ukuran yang sama—itu bikin mata bingung .
“Padukan motif besar dengan motif kecil,” kata desainer Laura Stephens. “Misalnya, floral besar dengan floral kecil, atau stripe lebar dengan pinstripe” .
Di ruang tamu, lo bisa mulai dengan wallpaper motif besar, lalu tambahkan bantal dengan motif yang lebih kecil dan warna yang nyambung.
3. Campur Motif dari “Dunia” yang Berbeda
Salah satu cara paling ampuh: padukan motif kontemporer (geometris, abstrak) dengan motif tradisional (botanical, floral) .
Ini menciptakan kontras yang jelas dan terlihat intentional—bukan seperti “salah kostum” .
4. Mulai dari yang Kecil
Nggak harus langsung ganti seluruh ruangan. Mulai dari bantal, tirai, atau karpet .
“Cushion adalah tempat yang paling aman buat bereksperimen. Kalau nggak cocok, lo bisa pindahin ke ruangan lain,” kata desainer Melissa Hutley .
5. Buat “Hero Piece” dan Kembangkan dari Situ
Pilih satu benda atau motif yang jadi pusat perhatian—misalnya lukisan, karpet, atau wallpaper . Dari situ, ambil warna atau elemen motifnya, lalu aplikasikan ke elemen lain di ruangan .
Tiga Pelajaran dari Fenomena Ini
1. Keberanian Itu Menular
Marliyana nggak cuma viral karena outfit-nya, tapi karena keberaniannya untuk tampil beda di ruang publik yang biasanya homogen. Ini mengingatkan kita bahwa ekspresi diri—di mana pun—itu berharga.
2. Minimalis Bukan Satu-satunya Jawaban
Setelah bertahun-tahun “less is more,” kita boleh mulai bilang “more is more.” Clashing prints, maximalism, dan segala bentuk keberanian visual adalah pengingat bahwa keragaman itu indah—baik di lemari pakaian maupun di ruang tamu.
3. Tren Ini Bisa Diaplikasikan di Mana Saja
Dari MRT Singapura ke ruang tamu lo—clashing prints bukan cuma untuk catwalk. Ini adalah cara berpikir: berani, ekspresif, dan menolak diseragamkan.
Kesalahan Umum yang Sering Dilakuin
Penutup: Ini Bukan Cuma Tren—Ini Jawaban atas Matinya Keberanian
Fenomena Marliyana di MRT Singapura bukan cuma video viral. Ini adalah simbol dari sesuatu yang lebih besar: kita sedang bosan. Bosan dengan minimalis yang steril, bosan dengan aturan yang membosankan, dan bosan dengan dunia yang makin homogen.
Clashing prints—baik di pakaian maupun di rumah—adalah jawaban atas kebosanan itu. Ini tentang mengambil risiko, mengekspresikan diri, dan menolak untuk “blend in.”
Seperti kata Vogue Arabia, “There is nothing more compelling than a look that isn’t supposed to work, but somehow does” .
Jadi, kapan lo mulai berani? Di kereta, di ruang tamu, atau di mana pun—saatnya berhenti takut dan mulai berekspresi.
Yuk diskusi! Lo udah coba clashing prints di rumah atau pakaian lo? Atau masih takut? Share di kolom komentar!